di udara kita bersaudara, di darat kita bersahabat

SEKRETARIAT:

Mungkidan, Danurejo, Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah

PUISI PMMI

ANUGERAH
Ada segenggam harap. Kupancangkan di langit-langit jiwa. Penaku adalah bajak meretas di ladang-ladang subur. Aku hanyalah petani sastra yang hanya dapat menanam kata dan kalimat. Berharap memanen kepuasan batin darinya. Benih sastraku dari sunatullah, tidak membeli. Maka panenku juga untuk diri dan pencerahan jiwa mereka yang peduli menyimaknya. Goresan penaku hanyalah ungkapan yang tertangkap indera dan rasa. Semua atas kuasa-Nya. Aku hanya bak penampung yang alirkan pencerahan bagi sesama. Anugerah ini bukan untuk diri sendiri. Lewat pintu huruf kutelusuri dunia imajinasi. Kurenangi beningnya jiwa. Mata air kata-kata memancarkan petuah bagi hidupku. Kutabur bunga puisi di lembah fantasi. Kumenari ditingkah cahaya gemerlap. Ah.... anugerah tiada tara. Akan kujaga sepanjang hayat. Agar tetap tercipta karya. Meski bukan pujangga, aku bersyukur menerimanya. (Pak Novan-Dibacakan oleh Yudha Mahendra di acara Gita Malam RMI)


KESABARAN


Begitu nikmat menulis kalimat
Begitu damai hati tak berpantai
Kasih, kita arungi samudra kehidupan
Layar dihembus angin kesabaran
Pasti sampai
Karena angin itu takkan henti

Kesabaranmu takkan habis
Merajut benang-benang asmara
Dari pintalan cinta yang tulus
Bagai imajinasi yang kureguk
Dalam rimba puisi
Mengalir jernih, sejernih hatimu kasih ....

Kita jaga hati kita sayang ....
Jangan biarkan emosi melalap kasih sayang
Jangan biarkan amarah ....
Meluluhlantakkan harapan
Biarkan hati tetap dingin
Sedingin dan seputih salju

Salju yang membasuh hati kita
Yang menuntun kita untuk ingat
Kepada Yang Kuasa
Ke mana kita berlindung
Saat hati murung
Bila tidak kepada Tuhan Yang Mahaesa

(Novan)